Di usianya yang masih relatif muda, menginjak 48 tahun, pengusaha satu ini kini tengah berada di puncak dunia percetakan digital di Indonesia. Dengan Print Graphic, Eddy Kimas berani buka-bukaan menceritakan banyak hal tentang perjalanan bisnis cetaknya.

Sebagai media industri grafika paling berpengaruh di Indonesia, tentu saja redaksi Print Graphic tidak ingin melewatkan wawancara dengan salah seorang yang paling sukses di dunia percetakan retail Indonesia. Dialah, Eddy Kimas.

Awal sejarah karir Eddy Kimas dimulai selepas lulus kuliah dari Universitas Trisakti, jurusan Teknik Elektro, Eddy sempat bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan kontraktor M/E elevator-excavator di Jakarta selama lima tahun. Namun keinginannya untuk wirausaha membuatnya terus mencari peluang yang ada. Sebelum resign di tahun 1998, Ia sudah menemukan ide usaha dan mempersiapkan usaha tersebut.

Ide usaha Eddy Kimas adalah membuat billing system untuk warung telekomunikasi (wartel). Ini tentu sesuai dengan pendidikan Eddy di bidang teknik elektro. Pada masa itu penghitungan billing telpon di wartel memang masih dilakukan secara manual. Ia melihat hal ini sebagai peluang yang cukup menjanjikan. Saat itu di tahun-tahun 1998, handphone masih belum merajalela seperti sekarang. Bisnis Wartel saat itu merambah dimana-mana, karena telpon umum banyak yang rusak, alat komunikasi susah.

Di dalam ruangan sebesar kamar kost, dimulailah usaha pembuatan billing system wartel. Eddy mengerjakan usaha barunya ini setiap pulang kerja. Bisnis Eddy pun booming sepanjang 1998 hingga 2001. Di tahun 2001, Eddy mengembangkan usaha ke bidang printing.

Berikut ini petikan wawancara redaksi majalah Print Graphic dengan Eddy Kimas :

Bagaimana Bapak bisa memulai bergerak di usaha cetak? Padahal anda bukan lulusan grafika dan sebelumnya tidak pernah menjadi broker cetak ?

Salah satu pelanggan saya dalam usaha biling system wartel, ternyata seorang pengusaha printing, Ia ingin buka wartel. Kami pun ngobrol-ngobrol. Saya bertanya, ada peluang apa. Istilahnya, kami tukar pikiran. Dari situ, saya diajak ke percetakannya di Kalibaru.

Saya sangat tertarik, saya melirik suatu peluang disitu ada satu bisnis di usaha percetakan yang cocok untuk saya, yaitu bisnis repro house. Cukup beli satu mesin image setter. Siapkan dengan komputer. Ini menurut saya, simple. Saya berangkat dari bidang elektronik. Komputer, saya cukup mengerti. Mesin image setter, pengoperasiannya juga sederhana.

Harga jual jasa repro saat itu masih bagus. Marginnya masih tinggi. Saya sempat survey dulu ke daerah-daerah kawasan percetakan di Jakarta Selatan, Kemayoran dan tempat-tempat di Kalibaru lainnya. Saya benar-benar tertarik. Akhirnya saya buka repro house bernama Prima Warna di Kalibaru Timur 3, awal tahun 2002. Dan ternyata cukup berhasil. Dari situ saya mulai berpikir untuk mengembangkan lebih jauh lagi. Apalagi bisnis billing system wartel saya mulai sunset, maklum penggunaan telepon genggam sudah mulai marak.

Di tahun 2008, Primagraphia membuka cabang pertama, sejak itu kami buka cabang terus, termasuk di Bekasi, Tangerang, Kalibaru, Surabaya, dan Pekalongan. Total karyawan Primagraphia kini 700 orang.”

Eddy Kimas dengan mesin HP Indigo 10000
Primagraphia lebih suka digital printing dibanding cetak konvensional offset. Apa alasannya?

Ini karena awalnya background saya kan elektronik dan komputer. Saya hanya tertarik pada sesuatu yang bisa dikontrol dengan komputer. Karena itu lebih mudah dibanding offset yang serba manual. Offset sangat mengandalkan operator.

Mungkin teknologi offset yang sekarang sudah banyak yang computerized. Tapi saat itu di tahun 2001 percetakan-percetakan di Kalibaru, mesin offset nya masih mesin 1 atau 2 warna. Saya melihat pengerjaan di offset, kotor sekali.

Kemudian sepulang dari drupa 2004, hadir teknologi digital printing toner Konica Minolta, dengan kualitas cetak mendekati offset dengan harga ekonomis. Akhirnya saya investasi Konica Minolta C550. Lalu muncul pula digital printing large format. Saya langsung terjun juga ke bidang cetak indoor/outdoor tersebut.”

Berfoto di depan mesin HP Latex 3000
Total  berapa armada mesin yang dimiliki?

Untuk Mesin HP Indigo saja ada 9 unit. Ini termasuk HP Indigo 10000. Mesin Konica Minolta, saya tidak ingat persis jumlahnya, tapi minimal satu cabang ada satu mesin. Bahkan untuk cabang-cabang yang besar didampingi lagi dengan Canon. Kami juga memiliki Efi Vutek, kemudian yang terbaru HP Latex 3000 dan Kornit, selain mesin-mesin latex ukuran kecil. Untuk mesin large format mungkin ada lebih dari 40 unit, ada Taimes, Crystaljet, Roland, Mimaki, Mutoh, Flora, Twinjet.

Kalau mesin tidak diuji kita tidak pernah tahu. Ada penawaran, kami ingin mengetahui dan ingin memilih yang terbaik, kami coba order satu. Hanya brand yang bagus, yang kami lakukan repeat order.

Sering mendengar nada miring atau merasakan tekanan terhadap kesuksesan Primagraphia yang begitu cepat?

Tekanan sudah pasti ada. Nada miring banyak. Tekanan yang paling terasa adalah dari sisi kompetisi harga. Misalnya ada layanan baru atau produk baru yang kami luncurkan. Contohnya, cetak latex. Primagraphia kebetulan saat itu adalah perintis. Kami lakukan promosi cetak latex. Tidak lama kemudian, promo cetak latex ini diikuti oleh percetakan lain dengan harga yang lebih miring. Atau, misalnya, suatu waktu Primagraphia lakukan promosi X-Banner, misalnya cetak X-Banner sebesar 60ribu, tak lama kemudian,promosi X-banner ditiru pihak lain dengan harga yang lebih miring sedikit, 59 ribu.

Lalu, suatu waktu kami lakukan promosi cetak sticker chromo, kami lakukan promosi dengan harga 55 ribu, tak berapa lama, kompetitor melakukan promosi yang sama dengan harga yang lebih murah lagi, bahkan tidak kira-kira, misalnya 45 ribu. Inilah tekanan-tekanan yang muncul dari persaingan harga di pasar.

Seiring dengan bertambahnya jumlah karyawan, perbaikan kualitas, brand kami yang makin besar, lama kelamaan cost pun semakin besar. Sebenarnya Primagraphia mengharapkan harga jual yang lebih baik. Sehingga kami memikirkan bagaimana agar beberapa produk tertentu, kami naikkan harga.

Disinilah tekanan muncul dari ketidak pedulian pemerintah. Kami kesulitan menaikkan harga karena pasar berpikir untuk selalu banting harga. Tapi pada akhirnya kami telah memberanikan diri untuk menaikkan harga cetak, terutama untuk cetak Indigo. Dan hasilnya cukup berhasil. Walaupun volume sempat turun 20%, margin naik 20 – 24%. Kami berhasil menaikkan harga tanpa kehilangan terlalu banyak pelanggan. Setelah itu, pelan-pelan volume pelanggan akan naik lagi.

Ini terkait dengan persaingan harga yang tidak sehat, sedangkan tekanan muncul bukan saja dalam persaingan harga, juga peningkatan UMP Karyawan.

PrimaGraphia menjadi penginstal pertama SwissQprint Nyala LED di Indonesia
Ada pengalaman dalam wirausaha yang sampai saat ini terus diingat?

Pengalaman pahit pernah saya rasakan. Saya pernah hampir bangkrut. Kejadiannya sebulan sebelum kerusuhan Mei tahun 1998. Saat itu, saya baru memulai usaha di billing system wartel. Ceritanya, saat itu saya sudah memegang uang lebih dari keuntungan usaha. Saya pun coba-coba main saham. Awalnya sukses terus. Sudah dapat untung dari main saham, tapi masih belum menyamai modal yang telah dikeluarkan. Istilahnya, dompet menggelembung karena main saham tersebut. Saya nekat main short-selling. Yang terjadi adalah bukannya untung malah buntung.

Keuntungan berbulan-bulan, ludes dalam hitungan jam. Bahkan sampai minus. Sampai-sampai saya harus pinjam uang. Dari bisnis pun habis, lalu malah menghutang. Satu bulan dari situ, terjadi kerusuhan Mei 1998. Saya makin stress. Pokoknya sempat depresi. Ini kelak jadi pelajaran penting bagi saya. Saya kini menjadi lebih hati-hati dalam mengambil keputusan. Pokoknya tidak berani ‘gambling’. Dari sejak itu saya kapok main saham.

Bisakah anda berbagi pengalaman selama menggunakan mesin andalan, seperi HP Indigo dan mesin digital printing lainnya?

HP Indigo pertama saya di tahun 2009. Seri 5500. Sampai sekarang kondisinya baik-baik saja. HP Indigo memiliki keunggulan. Ia benar-benar offset-looked, dan cetak bolak-balik benar-benar presisi. Dari segi warna merata dan color gamutnya luas. Buktinya bila orang mau cetak offset biasanya membuat proof terlebih dahulu dengan cetak di Indigo. Cetakan HP Indigo bisa menjadi acuan proof karena warnanya bisa ketemu di cetak offset.

Tetapi Indigo juga cukup rumit mesinnya. Sehingga bila terjadi down (ada kerusakan), kalau operatornya kurang pintar, tidak akan bisa perbaiki sendiri. Kalau operatornya pintar, kerusakan kecil bisa mereka perbaiki. Tapi untuk kerusakan diluar kemampuan operator, teknisi dari supplier tentu perlu dipanggil. Downtime pada Indigo bisa memakan waktu sehari bahkan lebih, sehingga mesin tidak beroperasi. Oleh karena itu, HP Indigo perlu didampingi mesin-mesin toner dalam pengoperasiannya. Bila Indigo mengalami downtime, mesin toner bisa menggantikannya.

Perbedaan downtime Indigo dengan mesin-mesin toner, rata-rata downtime untuk Indigo satu hari untuk perbaikan, sedangkan untuk mesin toner paling lama rata-rata setengah hari saja. Itu pengalaman saya.

PrimaGraphia kini menjadi salah satu trend setter kelengkapan layanan, kualitas dan kecepatan dalam bisnis printing. Menurut pendapat Bapak, trend industri jasa cetak di tahun ini dan tahun ke depannya akan seperti apa?

Trend-nya One Stop printing semakin diminati oleh konsumen. Sekarang bermunculan layanan dengan web to print. Seiring kemudahan moda transportasi online. Secara layanan, percetakan harus semakin cepat dan berkualitas.

Dimana kita tahu, Jakarta semakin macet. Konsumen terbiasa ingin cepat. Maunya satu tempat melayani semua. Saya kira market digital printing saat ini sudah jenuh. Dibanding di tahun-tahun sebelumnya, banyak sekali yang buka sana-sini. Tapi kecil-kecil. Mereka bisa menyediakan jasa print. Tapi finishing dan kebutuhan yang lain, tidak tersedia. Untuk kebutuhan urgent, dalam jumlah sedikit, mungkin konsumen akan mencari yang dekat-dekat saja.

Tetapi begitu ada order yang lumayan banyak, konsumen pasti akan mencari tempat yang terpercaya. Yang istilahnya sudah mulai branded. Saya kira PrimaGraphia sendiri sudah mulai branded karena selalu mengembangkan diri dalam segala hal, dari sisi layanan yang semakin lengkap, service semakin baik, dari sisi kecepatan semakin baik dan selalu update.

Bagaimana perkembangan Graha Printing PrimaGraphia setelah pembukaannya di tahun 2013 lalu?

Dengan adanya Graha Printing PrimaGraphia dengan tujuh lantai di Jalan Kepu Selatan no.71 kita bisa melihat sendiri. Di area jalan Kalibaru dan Kepu saja, kita memiliki 5 store. Besar dan kecil. Kesimpulannya, orang juga melihat penampilan. Mereka mengasumsikan gedung besar pasti layanan lengkap. Boleh dikata konsumen mengerucut ke toko-toko kita yang besar. Jalan yang lebih lebar, mudah dilewati mobil juga menjadi alasan saya menjadikan Graha Printing sebagai kantor pusat PrimaGraphia, dibanding dulu saat masih di Kalibaru.

Percetakan One Stop di Indonesia selama ini sengit dengan banting-bantingan harga, bagaimana menurut Bapak?

Trend banting-bantingan harga sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi perekonomian Indonesia saat ini, apalagi fluktuasi kenaikan nilai kurs dollar. Pada satu titik perusahaan yang masih bertahan dengan cara seperti ini akan mental. Tidak akan kuat. Cicilan pembelian mesinnya saja pastinya sudah tidak akan tertutupi lagi. Banyak toko yang tutup karena persaingan dengan trend harga hancur-hancuran.

PrimaGraphia sendiri selama 1,5 tahun terakhir sudah empat kali menaikkan harga di item yang sama. Harga cetak PrimaGraphia kini di atas rata-rata pada umumnya. Karena kalau mempertahankan harga lama disaat berbagai kenaikan harga bahan baku, kurs dollar yang terus naik, bisnis ini akan babak belur.

Apa yang membuat saat ini PrimaGraphia berani menaikkan harga?

Sebenarnya keputusan yang sulit untuk menaikkan harga. Kami pertimbangkan antara value yang kami miliki dengan harga jasa cetak kami. Akhirnya kami percaya bahwa kami punya value sudah diatas yang lain, artinya price kami terlalu rendah.

Walaupun kami sadar akan kenyataan bahwa pasti ada sekian persen pelanggan yang akan lari, yang mana mereka memang lebih ‘price oriented’. Tetapi sebagian besar pelanggan tetap bertahan karena telah merasakan segala kelebihan dari service kami. Ini membuktikan bahwa brand PrimaGraphia semakin kuat.

Dalam proses menaikkan harga, kami selalu ber-inovasi untuk mengimbanginya dengan berbagai macam promo. Seperti promo Bagi-Bagi Emas.

Saat pertama kalinya, kami menaikkan ongkos cetak dengan Indigo. Kami sisihkan sekian persen keuntungan kami untuk memberikan emas kepada pelanggan. Bahkan pertama kali kami pernah buat promo bagi-bagi handphone gratis setiap hari.

Saat promo bagi-bagi handphone di tahun 2009, saat itu dianggap penyebab banting-bantingan harga. Tetapi kami perhitungkan juga kalkulasinya, saat itu harga dollar juga belum setinggi sekarang. Biaya ‘klick’ cetak menggunakan HP Indigo saat itu masih lebih murah dibanding biaya ‘klik’ cetak dengan mesin toner.

Banyak Isu negatif berseliweran perihal investasi Pak Eddy Kimas yang seperti tidak habis-habis, sehingga PrimaGraphia mampu beli mesin terbaru terus-terusan. Apa tanggapan Bapak?

Ada isu mengenai saya melakukan praktek money laundring, kan ? ha..ha..ha… banyak isu yang sampai ke telinga saya. Saya klarifikasi disini bahwa saya sama sekali tidak melakukan bisnis money laundry. Jadi, saya berusaha menjadi the real businessman. Tentu kita harus terus belajar.

Intinya kami punya profit. Kami investasikan kembali dalam barang-barang modal atau dalam bentuk cabang baru, investasi mesin baru. Itu yang saya lakukan di awal. Jadi istilahnya menahan deviden, atau menahan mencicipi keuntungan itu di awal. Jadi, hampir 100% dari laba, saya investasikan dalam bentuk modal lagi.

Banyak orang begitu menikmati profit, kemudian menjadi konsumtif. Saya justru kebalikannya. Saya siap mengalah demi penambahan modal. Kalau bisnis sudah besar dan ada profit lebih, bolehlah, mulai menikmati hasil usaha kita.

Kemudian, faktor utama adalah sisi akurasi dari akunting yang penting, sehingga kita benar-benar mengetahui berapa sesungguhnya profit kita, karena banyak hidden cost yang tidak masuk hitungan. Kalau banyak, menjadi besar juga. Kemudian hal ini akan membuang dana untuk hal-hal yang tidak jelas. ■