Berangkat dari ide untuk mengangkat tema yang mengusung budaya tradisional Indonesia.

Sosok Daniel Mananta rasanya sudah cukup akrab kita saksikan di layar televisi sebagai bintang iklan dan presenter. Kariernya dimulai saat ia memenangkan kontes VJ Hunt sebagai VJ MTV. Daniel Mananta sebagai public figure, selebriti di Indonesia, tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk melebarkan bidang usahanya. Dengan membangun brand fashion Damn! I Love Indonesia (DILI) yang kini menjadi salah satu ikon urban street wear fesyen Indonesia, yang desainnya selalu mengusung tema budaya tradisional Indonesia. Saat ini brand “Damn! I Love Indonesia” memiliki 9 gerai yang tersebar di beberapa kota besar, yaitu Jakarta, Surabaya, Makasar, dan Manado.

Didirikan pada 28 Oktober 2008, kini brand kaos DAMN! I Love Indonesia Saat ini telah memiliki 9 gerai yang tersebar di beberapa kota besar, yaitu Jakarta, Surabaya, Makasar, dan Manado. Redaksi mengunjungi Pondok Indah Mall II, South Skywalk lantai 2 untuk mengetahui lebih dekat dengan Daniel dalam membangun usahanya tersebut. Berikut ini petikannya:

Bagaimana latar belakang munculnya ide dari bisnis DAMN! I Love Indonesia?
Berangkat dari ide saya untuk mengangkat tema yang mengusung budaya tradisional Indonesia yang kami perbaharui supaya terlihat lebih modern. Saya memiliki team desainer yang merealisasikan ide tersebut. Seperti desain gambar garuda, desain wayang, yang kami modern-kan. Sehingga wayang tidak terlihat kuno lagi. DAMN! I Love Indonesia bertujuan agar kita bisa selalu mempromosikan budaya Indonesia, juga mengingatkan anak muda Indonesia, betapa indahnya budaya mereka. Desain yang ditampilkan eksklusif, dibalik kaosnya selalu ada tema historis dari setiap desain sablon depan. Misalnya; gambar Borobudur, dijelaskan detail historis mengenai Borobudur itu sendiri, dibalik kaos tersebut. DAMN! I Love Indonesia memang berformat toko atau butik. Jadi bukan sifatnya menerima order lalu di-customize.

Apakah sudah ada rencana menjadikan brand ini sebagai franchise?
Franchise baru akan dilakukan tahun depan. Tahun ini kami masih belum siap, karena sistemnya sendiri masih dibangun. Saya dengar banyak sekali pertikaian antara franchisee dan Franchisator, itu yang ingin saya hindari. Karena saya adalah public figure. Mereka bisa saja mencari-cari kesalahan dan lain-lain. Jalinan sistemnya harus kuat dulu.Dalam sisi produksi, apakah DAMN! I Love Indonesia sudah memiliki pabrik sendiri? Mengingat kini sudah marak Mesin-mesin digital Printing Direct to Garment (DTG).Kami masih mengordernya ke pabrik garmen. Mungkin bila saya sudah memiliki minimal 10 gerai, baru saya siap membangun pabrik sendiri. Tapi saat ini belum.

 

Respon Pasar mengenai Produk Damn! I Love Indonesia? Apakah segmen-nya hanya sebatas kalangan remaja atau ada niat memperluas segmen dewasa hingga kalangan tua?
Yang lucunya, gaya saya memang anak muda banget. Dari sisi branding-nya, marketingnya, style nya, soul-nya memang generasi MTV sekali. Yang menarik, bukan anak-anak abg yang masih kelas satu atau dua SMA yang membeli, kebanyakan mulai anak kelas tiga SMA. Market terbesar memang di segmen anak kuliahan, sampai karyawan muda. Untuk orang dewasa hingga kalangan generasi tua, kami ingin mereka memudakan diri. Sehingga ketika memakai Jaket produk kami, misalnya, akan kelihatan sepuluh tahun lebih muda. Damn! I Love Indonesia memang tidak menyediakan pakaian yang terlalu formal.

Dari segi ketahanan dan kualitas, sablon sangat peka, misalnya, untuk kualitas yang kurang baik, dalam dua atau tiga kali pakai kaos, sablonannya rontok. Bagaimana Damn! I Love Indonesia menyikap hal ini?
Saya sudah men-training secara ketat masalah ini kepada para staff saya, karena hal ini sangat sensitif dan perlu kehati-hatian ekstra, apalagi produk kami tergolong tidak murah juga. Kami selalu mengingatkan kepada para pembeli, agar kaos dicuci dengan hati-hati, dikucek pun jangan terlalu berlebihan, setelah dicuci, kemudian harus dibalik saat dijemur. Disetrika pun jangan langsung kena sablonannya. Itu cukup berfungsi, sehingga customer bisa melihat bahwa produk DAMN! I Love Indonesia itu kualitasnya memang bagus.

Sangat ironis bila brand DAMN! I Love Indonesia, dimana produk ini adalah karya anak bangsa sendiri lalu dibajak oleh bangsanya sendiri pula.

Dalam sisi ini, Mas Daniel mempadukan dua brand, yaitu brand anda sebagai Selebritis, lalu memanfaatkannya untuk bisnis. Bagaimana respon dari teman-teman sesama selebritis mengenai bisnis DAMN! I Love Indonesia?
Mereka sangat support, mereka sendiri senang banget bila kami berikan kaos DAMN! I Love Indonesia. Saya sendiri sebagai selebritis, juga senang kalau ada teman selebritis yang memberikan kaos gratis pada saya, ha..ha..ha… saya sendiri sebisa mungkin juga mendukung teman-teman selebritis bila ada event-event besar, kami selalu memberikan kaos atau perangkat pendukung.

Apa produk Anda tidak kuatir dibajak?
Kekuatiran sich engga, karena fokus saya saat ini membangun toko, bukan berusaha menghukum orang. Bila saya menemukan term legal lain yang melakukan pembajakan, itu mungkin cerita lain. Tapi saat ini saya tidak ingin dibuat stress oleh masalah pembajakan. Sangat ironis bila brand DAMN! I Love Indonesia, dimana produk ini adalah karya anak bangsa sendiri lalu dibajak oleh bangsanya sendiri pula. Kami tentu akan melakukan sesuatu, tetapi tidak dalam waktu dekat ini. Kami juga sedang berusaha menciptakan sebuah desain yang susah dibajak.

Mungkin dari segi printingnya atau desainnya. Sejauh ini pernah menemukan bajakan produk anda?
Sudah pernah. Saya menemukan produk bajakan dari merk produk saya di mall-mall kelas low yang harganya murah banget, padahal belum ditawar. Pas, ditawar bisa lebih murah lagi, ha.. ha.. ha..

Creative Yang menjadi ciri kuat Brand DAMN! I Love Indonesia, adalah namanya, yang cenderung nyeleneh atau kasar. Apa alasannya?
Setiap apapun yang sifatnya mengganggu pasti akan mudah diingat orang. Sebenarnya, DAMN adalah singkatan dari nama saya, Da = Daniel, MN = Mananta, he he.. ya, benar, DAMN itu memang konotasinya negatif, tetapi dalam kasus tertentu, ini menjadi salah satu kata dalam konteks penekanan. Orang-orang luar negeri lebih mudah mengerti dengan menggunakan kata-kata bahasa Inggris.Inspirasi muncul mana dulu, kaosnya atau namanya?Nama dulu. Dan kaos adalah ide dasarnya. Saat ini fokusnya masih pada bidang apparel. Mungkin kedepannya bisa saja.