Kristin printing, salah satu percetakan offset yang sudah cukup lama eksis di Surabaya, berlokasi di Jalan Klampis Indah I No.19, Surabaya. Kristin merupakan salah satu percetakan yang memiliki komitmen kuat dalam kualitas, kecepatan dan biaya cetak murah. Semua sudah diperhitungkan dan sang pemilik. Bagaimana mengkolaborasikan diantara ketiga elemen tersebut.

Pemiliknya adalah Albertus Eduard, pria usia 42 tahun, kelahiran Surabaya, 10 Februari 1976 ini merintis usaha printingnya benar-benar dari nol. Di saat usianya masih 27 tahun. Tetapi Albertus tetap menggunakan nama perusahaan yang dirintis ayahnya saat usaha reklame, yaitu Kristin.

Redaksi sempat mewawancarai Bapak Albertus Eduard di kantornya:

Bagaimana Bapak memulai usaha percetakan?
Albertus Eduard : “Setelah lulus kuliah jurusan Elektro di STTS di tahun 1998, Saya memulai usaha percetakan di tahun 2001, karena terinspirasi dari Tante saya yang ada di daerah Tangerang. Saya memulainya dengan memiliki mesin Toko dan mesin ekspose . Saat itu, saya membeli mesin cetak bahkan disaat belum punya order cetak sama sekali. Dengan modal awal sebesar 27 juta yang dipinjami orang tua, yang saya kembalikan secara cicil.”

“Saya keluar masuk kantor-kantor, toko-toko untuk memberikan kartu nama, menawarkan jasa cetak. Setiap pagi, saya mencari order, siangnya mengerjakan setting, malamnya, ordernya saya cetak sendiri. Saat itu, saya belum punya operator. Jadi, order cetaknya, saya yang kerjakan sendiri. Menjadi owner merangkap operator, hehehe…”

“Di tahun 2005, saya mulai membeli mesin dengan area cetak yang sedikit lebih lebar, yaitu Ryobi 480K. Saya gunakan terus untuk cetakan-cetakan berwarna, hingga saya upgrade dengan mesin Oliver 66 dan Oliver 58, kemudian saya ganti dan tambah lagi menjadi mesin 2 warna, Oliver 252 dan Oliver 72. Semua mesin-mesin rekondisi tersebut, saya dapatkan dari Masterinna SBp.”

“Akhirnya, di tahun 2016, setelah saya memiliki mesin Heidelberg Speedmaster 52 – 4 dan Oliver 66, kemudian saya memperluas area cetak saya, dengan menginstalasi mesin cetak setengah plano, yaitu Heidelberg Speedmaster 74 – 4 eks Eropa. Saya juga menginstalasi mesin CTCP Cron dari Bintang Cakra Kencana. Tapi, mesin pertama saya, Toko 810 masih tetap saya gunakan. Ini mesin penuh kenangan. Tidak akan saya jual. Itu mesin bersejarah. Saya akan terus pertahankan.”

Saat ini Bapak mulai merambah ke dunia digital printing dengan menginstalasi mesin Konica Minolta bizhubPRESS C1100. Apa yang jadi alasan Bapak?
“Sebelum instalasi Konica Minolta sebenarnya dua tahun lalu, di tahun 2015, saya sempat bermain di jasa cetak outdoor. Hanya saja tidak saya lanjutkan karena berbagai kendala. Seperti bau menyengat dari solvent yang terasa menganggu dan merusak kesehatan.”

Tantangan-tantangan apa yang sering dihadapi saat produksi?
“Memberikan pengertian kepada konsumen mengenai differensiasi warna. Dengan menjelaskan tingkat perubahan warna antara yang terpampang di monitor, yang kemudian tertuang dari hasil cetak offset, atau karena pengaruh jenis kertas. Sehingga penting sekali standarisasi warna, baik antara desainer maupun pihak percetakan.”

Ada rencana penambahan cabang?
“Saya mulai membuka cabang di daerah Rungkut tahun 2018 ini. Saat ini saya sedang mencari lahan yang cocok untuk membangun tempat yang bisa digunakan untuk showroom. Sehingga sektor digital dan offset bisa terakomodasi.”

Apa kiat sukses Bapak?
“Pertama adalah kejujuran. Dalam komitmen janji juga harus tepat, agar konsumen tidak kecewa. Kedua, keuletan. Kalau kita sudah fokus satu bidang, tekuni bidang tersebut hingga sukses, barulah merilik bidang lain. Dan jangan pernah berhenti belajar. Bergaul dengan komunitas sangat penting untuk menambah wawasan dan network.” @Pg

*) Seperti yang diceritakan oleh Albertus Eduard, pemilik Kristin Printing, di workshopnya, di jalan Klampis indah no.19 Surabaya.