Redaksi Print Graphic menjadi satu-satunya wakil media grafika Indonesia yang mendapatkan kesempatan meliput pabrik mesin cetak offset legendaris, Heidelberg, untuk wilayah Asia Pasifik, yang berada di distrik Qingpu, Shanghai, China. Heidelberg Graphic Equipment Shanghai (HGES) diresmikan pada tahun 2005.

Di factory ini juga terdapat Print Media Centre Heidelberg yang ke-3, setelah dua fasilitas sebelumnya, yaitu di Wiesloch, Jerman dan Atalanta, Amerika Serikat.

Stephan Plenz, salah satu anggota dari board management Heidelberg, mengatakan, “Pelanggan kami membutuhkan pusat demo dan pelatihan di wilayah Asia. Jadi, Heidelberg memutuskan untuk mendirikannya di gedung bagian depan factory. Pembangunannya dimulai pada tahun 2012, dan sekarang telah dibuka. ”

Suasana perakitan mesin Heidelberg di factory Qingpu, Shanghai

Sejak tahun 2005, Heidelberg melakukan ekspansi produksinya di benua Asia, dan mulai melakukan ground breaking untuk pembangunan pabriknya di Shanghai, China. Dengan langkah ini, waktu pengiriman produk ke daratan dan wilayah negara Asia Pasifik lainnya menjadi lebih singkat. Kami melakukan perakitan beberapa produk kami di China.

Tentu, ini menjadi sangat penting untuk pasar China, khususnya. Dimana pelanggan bisa membeli dalam mata uang lokal mereka, Renminbi, dan tidak perlu merisaukan perlunya ijin impor. Dampak positif juga dirasakan wilayah-wilayah Asia lainnya, sehingga harga mesin menjadi lebih kompetitif karena memangkas banyak biaya.

Meskipun perekonomian China agak menurun karena terjadi perang dagang dengan Amerika di tahun lalu, Plenz optimis tentang masa depan di wilayah ini. “Saat ini, ekonomi Cina di bawah tekanan, tetapi secara global, wilayah Asia tumbuh dengan baik. Jadi kami memperluasnya. Jika industri lain tumbuh, kita akan tumbuh juga” katanya.

Dalam 15 tahun sejak diresmikan, Heidelberg telah menghasilkan lebih kurang 8.000 unit di Factory Shanghai.

Plenz juga mengatakan, ”Market China dan Asia berkembang begitu pesat dalam beberapa tahun terakhir ini, sehingga kami perlu memperluas area pabrik. Perluasan mengalami 4 fase, dimana fase awal di tahun 2005, kemudian di fase ke-2 pada tahun 2006 dan 2007, dan fase ke-3 dan ke-4 di tahun 2010.

Dalam 10 tahun terakhir, Heidelberg telah menghasilkan lebih dari 6.000 unit di fasilitas Shanghai-nya. Dimana 1000 unit terjual diantaranya adalah mesin Heidelberg Speedmaster CD 102-4. Selain CD 102-4, mesin cetak yang diproduksi di fasilitas Shanghai adalah Speedmaster SM52, SM74, dan CS92.
Plenz mengatakan bahwa tentunya pelanggan ingin melihat bagaimana proses pengerjaan mesin Heidelberg sebelum pengiriman, untuk meyakinkan mereka sebelum memutuskan pembelian. Print Media Centre (PMC) akan membantu pelanggan mendapatkan kesempatan ini.

Fasilitas PMC Shanghai dengan 2.250 meter persegi, fokus pada pelatihan dan demonstrasi untuk mesin digital printing, pre-press dan Prinect, printing dan post-press, service dan consumable. Selain itu, PMC memiliki ruang pelatihan yang komprehensif. Fungsi utama dari PMC itu sendiri adalah untuk :
– Mempertunjukkan mesin.
– Live demo.
– Untuk tempat technical training.
– Untuk tempat mengadakan forum, seminar, dan lain-lain.

PMC Shanghai menggunakan bahasa Inggris dan Mandarin untuk menjangkau pelanggan, tidak hanya dari China tetapi juga dari seluruh Asia.

Logo Baru sebagai Perjalanan Baru Heidelberg

Stephen Plenz menjelaskan perihal logo baru Heidelberg, dengan adanya warna kuning, biru dan hijau pada huruf ‘H’ di logo Heidelberg. Ini menunjukan portofolio Heidelberg yang terdiri dari tiga pilar, yaitu Service, Mesin dan Consumable (bahan baku cetak). Setiap pilar diwakili dengan warna. Kuning untuk service, biru untuk mesin dan hijau untuk consumable. Ketiga warna ini digunakan di huruf awal dari desain baru Heidelberg, dimana huruf pertama tersebut digunakan sebagai ikon merk. Sepertinya ikon bertema akan terus digunakan untuk mengetengahkan manfaat bagi para pelanggan Heidelberg.

Heidelberg Bantah Rumor Kualitas Mesin Yang di-Assembling di China Lebih Rendah

Dalam press conference dengan media, redaksi menanyakan rumor yang sering berhembus di kalangan para pegiat grafika Indonesia bahwa kualitas mesin Heidelberg dari pabrikan China, mutunya lebih rendah dibandingkan yang dibuat di Jerman. Rumor ini dibantah tegas oleh Stephen Plenz. Bahkan Rene Ludvigsen, CEO Heidelberg kawasan Asia Pasifik, ikut menambahkan. Ia menegaskan bahwa tidak ada perbedaan dalam part, gear maupun metalurgi, karena semua part didatangkan dari Jerman.
“Pabrik Heidelberg di China bukan bersifat based-manufactured. Pengerjaan disini hanya merakit. Seluruh part, gear dan blok mesin didatangkan langsung dari Jerman. Kami menggunakan standar yang sama, baik teknologi dan metalurgi di kedua fasilitas kami di Jerman dan China. Ini adalah fasilitas milik Jerman yang berada di daratan China, bukan fasilitas milik China. “, ujarnya.
Hal ini dibuktikan oleh Manajemen Heidelberg, dengan membawa para pengunjung untuk keliling area produksi mesin. Melihat langsung bagaimana para karyawan Heidelberg sedang merakit mesin. Proses quality control dan test running mesin dan melihat gudang spare part.
Kebanyakan peserta dalam acara ini merupakan calon customer dari berbagai Negara di Asia. Ada empat percetakan Indonesia yang diundang oleh manajemen Heidelberg.

Kerjasama Strategis Heidelberg dengan Masterwork Machinery Co.Ltd (MK)

Dalam press conference juga diulas perihal kerjasama Heidelberg dengan MK. Stephen Plenz mengungkapkan bahwa Heidelberg merasa perlu untuk tetap membentuk aliansi strategis dengan produsen spesialis finishing untuk mencapai keberhasilan. Tidak ada satu pun perusahaan yang dapat memiliki keahlian dalam segalanya untuk memenuhi semua harapan pasar global. Pelanggan semakin mencari single supplier.

Meskipun sebagian besar mesin MK sudah mendapatkan sertifikat CE, Heidelberg tetap mengadakan pengecekan secara tersendiri pada desain dan kualitas untuk memastikan kehandalan, sesuai dengan standar Heidelberg sebelum mesin dikirim ke pelanggan. Uji coba lapangan yang lengkap pada mesin MK Promatrix dan MK Easymatrix agar dapat memasuki pasar lebih besar lagi. ■

Editor :

Andrey Damar