PT RajaGrafindo Persada, adalah perusahaan penerbitan buku yang berdiri sejak tahun 1980. Awal berdirinya bernama CV. Rajawali. Kemudian saat perusahaan berkembang menjadi perseroan, dipilihlah nama RajaGrafindo Persada. Nama ini dipilih dengan doa dan harapan, akan menjadi raja penerbitan di Indonesia.

Kini, setelah 37 tahun berdiri, RajaGrafindo Persada telah memiliki 11 kantor perwakilan yang tersebar di seluruh wilayah di Indoensia. Meliputi perwakilan Medan, Pekanbaru, Palembang, Lampung, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Banjarmasin dan Makassar. Perwakilan-perwakilan ini salah satu fungsinya adalah sebagai kantor pemasaran dan distribusi, sehingga buku-buku terbitan RajaGrafindo Persada dapat tersosialisasi dari Sabang sampai Merauke. Dengan jalur-jalur distribusi tersebar luas, mulai dari modern outlet-outlet modern hingga yang tradisional.

Untuk manajemen pengelolaan secara nasional, didirikanlah Kantor Pusat. Kantor ini sebelumnya di kawasan Kelapa Gading Jakarta Utara, kini telah berpindah di kawasan Leuwinanggung, Kota Depok. Dengan lahan yang jauh lebih luas sehingga Kantor Penerbit dan Percetakan serta gudang pusat dapat terintegrasi dalam satu lokasi.

Redaksi melakukan wawancara eksklusif bersama Direktur PT RajaGrafindo Persada, Ibu Hj. Magdalena Sofjan. Berikut ini petikannya :

Bagaimana kronologi dari usaha RajaGrafindo Persada?
Perusahaan ini merupakan Perusahaan keluarga, dimana pendirinya adalah almarhum orang tua kami. Awalnya, ayah kami memang fokus dalam bisnis cetak mencetak. Lalu dalam perjalannnya, mencoba mendirikan bisnis penerbitan bersama kawan-kawannya. Kebetulan, Ibu kami juga merupakan pedagang buku. Jadi ada korelasinya. Kerjasama Ayah kami dengan teman-temannya tidak berlangsung lama, kerjasama mereka pun pecah. Kemudian mereka mendirikan perusahaan dengan nama masing-masing.
Di tahun 1980, CV. Rajawali kemudian berdiri. Buku-buku teks perguruan tinggi menjadi bisnis utama. Sekian tahun berjalan, pengembangan penerbitan CV Rajawali terus dilakukan, seperti pengadaan buku-buku olahraga, buku anak, buku sastra, hingga buku-buku agama populer.

Kini, pengelolaan RajaGrafindo Persada telah memasuki generasi ke-3. Dalam kurun dua tahun terakhir ini, yang cukup signifikan dari produk kami adalah co-publish. Pengertiannya adalah buku tersebut dibiayai oleh pemesan, kemudian kami membantu dalam pemasarannya. Karena kami melihat bahwa pasar produk tersebut merupakan pasar yang eksklusif. Terbatas yang menyerapnya. Terkadang penulis membutuhkan penerbitan bukunya dalam jumlah kecil tersebut untuk mendapatkan poin dalam meningkatkan karirnya di bidang akademis.

Bagaimana awalnya RajaGrafindo Persada yang lama di penerbitan, lalu memutuskan untuk membangun percetakan sendiri?
Sampai saat ini untuk proses pencetakan buku-buku produksi massal, masih kami lakukan secara outsourcing, biasanya percetakan di Pasar Minggu dan Pondok Bambu. Untuk mesin prepress-nya, kami sudah punya. Oplah untuk pencetakan buku, rata-rata minimal 2.000 ekssemplar. Makin banyak oplah akan menekan harga pokok penjualan buku tersebut.
Nah, kemudian kami menemukan peluang dimana adanya kebutuhan buku-buku karya ilmiah para dosen atau akademisi dalam jumlah terbatas. Selain itu, kami memerlukan proses cetak ulang dimana oplahnya pun tidak terlalu banyak. Akhirnya kami putuskan untuk membangun percetakan digital. Selama setengah tahun kami lakukan riset dan menyusun anggaran.
Selain perlengkapan untuk percetakan, kebutuhan utama lainnya, tentunya adalah membangun gedung percetakannya itu sendiri. Akhirnya, di tahun 2016, kami resmikan percetakannya dan kami namakan Rajawali Printing.

Mesin apa saja yang digunakan Rajawali printing? dan apa alasan memilih mesin Canon Ocѐ?
Tentu yang pertama adalah hasilnya, kedua melihat dari aspek harga dan mempertimbangkan perawatan dan operasional yang tidak terlalu rumit. Untuk mesin cetak utamanya, kami memilih produk yang dipasarkan oleh PT Samafitro, yaitu Canon (Ocѐ) VarioPrint 110 untuk versi cetak hitam putih dan mesin Canon C600 untuk versi cetak warna. Selain karena mesinnya handal, kualitas cetaknya bagus, layanan purna jual dari PT Samafitro sangat memuaskan. Sedangkan untuk mesin finishing perfect binding dari Horizon BQ270, dan mesin cutting dari Perfecta.

Pengalaman apa yang didapat setelah menjalankan percetakan?
Selama mencari informasi tentang strategi dalam membangun percetakan, banyak informasi yang kami dapatkan. Kalau membangun percetakan offset, itu kan mimpi kami dari dulu. Tapi anggaran untuk membangun percetakan offset tidak sedikit. Sehingga untuk saat ini kami tunda dulu impian tersebut. Oleh karena itu pencetakan digital menjadi pilihan kami saat ini untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan print on demand.
Beberapa pengalaman yang kami dapatkan, ternyata menjalankan percetakan digital pun bukan hal yang mudah juga. Untuk mendapatkan suatu produk, ternyata banyak hal yang seringkali menghambat proses produksi. Seperti jumping atau kertas lembab. Belum lagi proses finishing yang cukup memakan waktu.
Tetapi menariknya, setelah RajaGrafindo Persada memiliki percetakan sendiri, banyak prospek baru yang kami terima. Seperti permintaan cetak kalender, brosur, buku-buku laporan tahunan, dan lain sebagainya. Ini menjadi pertimbangan kami untuk pengembangan lebih lanjut. ■