Sensory Branding sebagai keunikan dalam karya cetak, di level tertentu justru menjadi alternative yang terbuka luas bagi terciptanya karya-karya cetak berbentuk fisik yang bermutu tinggi, unik, branded.

Lewat media sosial, seseorang pernah menanyakan pada saya apakah buku saya yang terbaru (Mari Berhitung Sisa Hidupmu) tersedia dalam format digital. Saya jawab tidak, dan menjelaskan kepadanya bahwa buku tersebut sarat dengan aktivitas yang melibatkan panca indera.

Di dalam buku tersebut, bahasa gambar dibuat lebih dominan dari bahasa tulisan, menggunakan kertas jenis book paper yang berbau khas, selain itu kertasnya terasa kasar saat jari membalik halamannya. Ditambah lagi beberapa aktivitas fisik seperti menulis/ menggambar pada halaman buku, menyobek, menggunting, menjawab quiz, dan lain-lain. Saya yakin kita semua mengerti bahwa tidak semua bentuk penerbitan cocok dengan format digital, karena ternyata ada halhal esensial yang hanya bias diwujudkan bila konten disajikan dalam bentuk fisik. Mari kita lihat lebih dalam lagi.

Starbuck terkenal dengan sensory branding-nya. Sensory branding – menurut hasil penelitian marketing S. Rieunier – adalah sebuah istilah marketing yang melakukan usaha perangsangan terhadap panca indera konsumen untuk menghasilkan perasaan dan pemikiran tertentu menyangkut brand tersebut ( = brand image). Dari jauh kita bisa melihat logo Starbucks dan eksterior kedai / restorannya yang khas (perangsangan indera penglihatan), masuk ke dalam kita disambut oleh aroma kopi yang harum (penciuman) serta alunan musik yang cozy (pendengaran), duduk di sofa yang empuk (perabaan), lalu menyeruput kopi (pengecapan).

Seluruh pengalaman empiris yang “UNIK” itu lalu menghasilkan asosiasi tertentu tentang Starbucks yang melekat kuat di benak konsumen. (Unik disini artinya spesial, tidak tergantikan oleh pengalaman delivery service misalnya)

Hal serupa terjadi pula pada karyakarya cetakan. Pengalaman unik dalam membaca buku fisik contohnya, berfungsi kuat dalam penciptaan brand image terhadap buku tersebut, terhadap kontennya, terhadap penulisnya, bahkan terhadap si pembaca itu sendiri. Seluruh pengalaman sensorik ini – menurut Martin Lindstrom dalam bukunya: Brand Sense – dapat dikatakan sebagai branding.

Kalau melihat dari sejarah, karya penerbitan yang betul-betul unik adalah naskah dan kitab-kitab yang dibuat sebelum adanya teknologi pencetakan dan tipografi, dimana semuanya dikerjakan secara manual, dan walaupun diperbanyak, tetap tidak ada satupun yang sama persis. Unik. Branded. Tak ternilai.

Kemudian muncullah pencetakan manual, mekanis, lalu digital. Kini, copy, paste, scan dapat dilakukan secara instan dan masal, hal ini makin memperluas similarity produk, komoditi, ketidak-unikan. Mungkin di level tertentu “print is dead” benar-benar terjadi, namun tidak demikian bagi para kreatif yang jeli melihat momentum ini sebagai peluang. Sensory branding sebagai keunikan dalam karya cetak, di level tertentu justru menjadi alternatif yang terbuka luas bagi terciptanya karya-karya cetak berbentuk fisik yang bermutu tinggi, unik, branded.

 

suriantorustan
Website: suriantorustan.com
eMail: info@suriantorustan.com
Twitter: @suriantorustan
FB page: facebook.com/suriantorustan
Blog: surianto.wordpress.com