Ketika ditanya mengapa membeli lagi mesin cetak offset Speedmaster CD 102, ingatan Bapak Soeseno Boenarso, pendiri PT. Suburmitra Grafistama atau lebih dikenal dengan nama “Subur” itu malah tertuju pada kelahiran cucu pertamanya, Andrea. “Saya pakai mesin yang paling lama itu adalah CD, yaitu selama 16 tahun. Dibeli bersamaan waktunya dengan kelahiran cucu pertama saya, Andrea. Tahun ini Andrea sudah 17 tahun…” ujarnya.

Pak Soeseno merujuk pada mesin cetak offset Speedmaster CD 102 yang dibeli tahun 2000 dan yang beberapa bulan lalu telah terjual. “CD 102 saya itu hanya 2 – 3 bulan ditawar, lalu sudah laku. Kalau (nilai) Rupiahnya saya masih dapat menerima 38%.

Mesin sudah saya pakai 16 tahun. Itu luar biasa…” jelas Pak Soeseno bersemangat. Meskipun telah memiliki mesin – mesin cetak offset Heidelberger Druckmaschinen AG (Heidelberg) yang lain yang lebih mutakhir serinya seperti Speedmaster XL 105, Pak Soeseno kembali membeli seri yang sama untuk menggantikan Speedmaster CD 102 yang telah ia jual. “Saya pikir CD 102 itu mesin bandel…” tambahnya.

Memilih mesin cetak yang tepat, bagi Pak Soeseno, adalah hal yang teramat penting dalam menjalankan usaha percetakan yang telah ia geluti selama lebih dari 35 tahun itu. Pemilihan mesin cetak yang tepat, menurutnya, adalah kunci terpenting dari prinsipnya menjalankan usaha di samping komitmen total memberikan pelayanan terbaik pada pelanggannya. Maka pilihannya jatuh pada mesin – mesin printing offset “keluarga Speedmaster” buatan Heidelberg. Bukan hanya Speedmaster CD 102, sederet mesin – mesin Speedmaster berbagai tipe ada di area produksi Subur seperti CtP Su- membeli mesin – mesin tersebut selalu dalam prasetter A 52, Speedmaster XL 105, Speed- kondisi baru.
master XL 75, Speedmaster PM 74, Speedmaster SM 52, Stahl folder, Polar.

Subur dirintis dari sebuah usaha jasa foto kopi di tahun 1977 oleh Pak Soeseno dan Ibu, Subur tumbuh menjadi perusahaan penyedia layanan cetak terkemuka di Tanah Air dengan 11 cabang di berbagai lokasi di Jabodetabek dengan karyawan lebih dari 500 orang. Dari jumlah cabang tersebut, 6 diantaranya dimiliki oleh Subur 100 persen, sisanya adalah cabang yang didirikan secara patungan bersama dengan mitra usahanya.

Menjawab perkembangan pasar layanan cetak, Subur merupakan salah satu yang pertama menawarkan layanan cetak digital meskipun cetak offset tetap menjadi tulang punggung perusahaan. Ketika berbagai pihak mulai gamang pada masa depan industri layanan cetak di tengah trend era paperless dan serba digital, Subur tetap menambah dan meremajakan mesin – mesin cetaknya yang dibeli dalam kondisi baru. Bahkan Subur tercatat sebagai perusahaan yang selalu menjadi yang pertama di Indonesia membeli produk terbaru dari Heidelberg.
Dalam rentang panjang sejarah Subur, mesin – mesin cetak produksi Heidelberg telah menjadi bagian dari keteguhan Pak Soeseno, menjadikan kepuasan pelanggan sebagai hal yang paling utama.

Berikut ini adalah ringkasan hasil wawancara dengan Bapak Soeseno Boenarso

Dari usaha jasa foto kopi tahun 1977, kemudian kapan Subur mulai menjual layanan offset printing?
“Cetak offset kita mulai tahun 1984. Pertama kita beli Heidelberg SORM satu warna. Lalu tahun 1986 saya beli Heidelberg GTO satu warna. Semua dalam kondisi baru. Kemudian tahun 1987 saya beli lagi Heidelberg GTO karena sudah mulai menerima pekerjaan cetak empat warna. Tahun 1989 saya membeli Heidelberg GTOV empat warna. Selanjutnya Heidelberg SORM diganti dengan Heidelberg SORMZ dua warna. Saya menambah lagi mesin Heidelberg SORSZ yang bareback dua warna. Lalu berkembang terus, Heidelberg GTOV diganti Speedmaster SM 52 low pile.

Kemudian tahun 1998 saya beli Speedmaster SM 74 empat warna, tapi kemudian dijual kembali ke Heidelberg karena terjadi peristiwa Kerusuhan 1998. Tahun 2000 saya beli Heidelberg CD, CP 2000 yang pertama, touch screen. Saya pakai selama 15 tahun, lalu saya ganti dengan Speedmaster CD yang baru. Nah, ketika pekerjaan semakin tambah, satu Speedmaster CD tidak mencukupi. Akhirnya tahun 2006 saya tambah dengan Speedmaster XL 105, mesin XL yang pertama. Tahun 2012 saya tambah lagi dengan Speedmaster XL 105.
Tahun yang sama saya tambah Speedmaster XL 75 delapan warna perfecting. Saya juga beli Speedmaster SM 52 Anicolor pada tahun 2009. Selama periode itu kami banyak menambah mesin, misalnya Postpress (pasca cetak) Polar, mesin lipat Stahl.

Kalau dibandingkan dengan merek lain, tetap Heidelberg yang kualitasnya lebih bisa dipegang. Selain itu, second hand value-nya lumayan, bisa cepat laku, harganya bagus. Sekarang sudah ada 4 unit mesin lipat.”

Apa yang membuat kepercayaan konsumen tinggi terhadap Subur?
“Kami menjaga kualitas. Untuk itu kami selalu mempunyai mesin cetak baru. Yang kedua, on-time delivery. Umumnya percetakan selalu “molor” waktunya, kalau saya tidak bisa, harus on time, itu kuncinya. Menggunakan mesin cetak Heidelberg yang selalu siap produksi. Maka dari sisi waktu kita bisa janji ke konsumen. Itu kunci yang saya jual. Selain itu juga servis harus bagus dan harga kompetitif. Subur bukan termasuk yang murah tapi juga bukan yang mahal. Pada poin itu baru kemudian kepuasan pelanggan, customer satisfaction.
Dan kita melihat demand, kalau kelihatan permintaan makin bertambah, saya menambah lagi armada. Sebagai contoh kalender meja. Mungkin sekarang kita yang punya kapasitas produksi paling tinggi. Dalam 1 hari, buat 1 macam saja, 40.000 kalender meja saya bisa produksi, termasuk kakinya, sudah jadi. Mesin cetak kami sudah ada empat line, kesemuanya heavy duty: XL 105 ada dua, CD ada satu, XL 75 ada satu.”

Banyak orang bertanya, dalam situasi seperti ini Subur bisa tetap membeli mesin baru?
“Karena kita mengutamakan kepuasan konsumen. Dengan mesin baru, pertama, kita punya pekerjaan bisa dihitung lebih tepat waktu penyelesaiannya. Kemudian cost lebih rendah. Kedua, dengan sendirinya kalau kita tepat waktu, meskipun kue kecil, kue itu bukan direbut tapi kita dibagi karena kita kerjanya lebih tepat dan kualitasnya lebih bagus. Memang kalau membeli mesin
second (bekas) harganya sepertiga atau seperempatnya, tapi kalau kita membeli second (bekas) belum tentu setelah dipasang, mesin bisa langsung berproduksi, mungkin butuh sebulan – dua bulan.

Itulah mengapa kita juga membeli banyak mesin. Pertama, mesin kalau sudah ada umurnya sering ada problem (rusak) sehingga kami tidak akan bisa tepat janji waktu kepada konsumen, tidak bisa memberikan kepuasan pelanggan. Misalnya mengapa kita mau membeli yang delapan warna, yaitu karena pekerjaan cetak keluar langsung jadi. Kami juga memperhitungkan cost, space juga. Alasan kami mau mengganti PM 74 karena kalau kami mau memproduksi annual report yang hitam / putih harus jahit benang; digabungkan cetak, lipat, gabung. Itu pekerjaan lagi dan ada kemungkinan kesalahannya. Ini jika kita pakai yang dua warna bukan perfecting. Jadi kita mau beli yang perfecting dan ukuran besar. Jadi keluar, langsung jadi. Dari segi cost jauh lebih murah, error-nya tidak ada, dari sisi waktu produksi bisa lebih cepat. Nah itu yang saya pikirkan.”

Mengapa Subur memakai mesin cetak offset semua Speedmaster?
“Terutama kualitasnya yang konsisten. Yang utama dari kepuasan pelanggan adalah kualitas. Kedua, setelah kami pakai mesin cetak Heidelberg, mesin bekasnya (second hand) mudah dijualnya dan nilai jualnya masih lumayan, bisa 30%, bisa lebih.
Contohnya CD saya itu dua, dalam waktu tiga bulan sudah terjual. Dalam nilai Rupiah saya masih mendapat 38%. Mesin itu sudah saya pakai 16 tahun produksi. Luar biasa! Dahulu saya beli Heidelberg GTOV. Setelah 10 tahun saya pakai, saya jual itu nilai Rupiahnya bisa 100% dengan memperhitungkan devaluasi. Kami dulu beli Heidelberg GTOV mungkin seharga Rp 490 juta kemudian saya jual lagi dengan harga sama yaitu Rp 490 juta.”

Bagaimana penilaian Bapak tentang mesin – mesin pesaing Heidelberg?
“Terus terang saya jatuh cinta dengan Heidelberg. Saya tidak mungkin pakai merek lain… Terus terang saya “Heidelberg-minded, Polar minded, Stahl minded”.
Kompetitor datang menghadap Bapak juga, menawarkan mesin cetak merek lain.”

Bagaimana sikap Bapak?
“Benar tetapi saya tidak akan tergoda.”

Bagaimana Bapak bisa menjadi Heidelberg minded?
“Kalau dibandingkan dengan merek lain, tetap Heidelberg yang kualitasnya lebih bisa dipegang. Selain itu, second hand valuenya lumayan, bisa cepat laku, harganya bagus. Dan sehubungan dengan kualitas bukan hanya hasil cetaknya tapi juga terkait processing dan developing. Berapa banyak hidden cost yang sebetulnya ada tapi tidak terhitung. Jadi kita memiliki semacam winning formula dimana kita tidak pakai selain mesin dari Heidelberg.”

Bagaimana Bapak melihat masa depan usaha cetak?
“Ada yang mengatakan bisnis cetak sudah hampir mati karena trend paperless. Tapi saya merasa yang paling penting kita bisa memberikan kepuasan kepada konsumen. Jadi selama kita bisa memuaskan pelanggan, kita akan diberi pekerjaan yang lebih banyak dan kita yang dipilihnya. Kalau produksi kita bisa cepat, maka pekerjaan akan selalu datang ke kita. Kalau kapasitas tidak cukup, mau tidak mau, harus menambah mesin lagi. Tapi kalau misalnya kita memakai mesin bekas, mungkin kita pikir ‘kenapa harus baru, sekarang pasar sedang sepi… sedangkan mesin bekas aja tidak berproduksi. ’Menurut pendapat saya, bukan pasar yang sepi, tetapi karena mesin Anda yang buruk, pekerjaan cetak tidak diberikan kepada Anda. Lama – kelamaan Anda menganggap pasar terus sepi. Padahal keadaan terasa “sepi” bukan karena pasar yang sepi, namun karena mesin Anda sering rusak. Jadi pelanggan Anda datang, mereka berpikir, ‘wah rusak, nanti kalau saya ke sana lagi, mesin akan rusak lagi, lebih baik saya pergi ke percetakan lain.” @