Daito Printing (merupakan divisi dari PT Daito Internusa Sukses) adalah percetakan yang sangat terkenal di Bali. Perusahaan percetakan yang kini memiliki 60 karyawan ini sejak dulu dikenal mengedepankan kualitas cetak dan layanan.

Sejarah Daito Printing
Dimulai dari kiprah pasangan, Made Wijaya dan Ruth Astuti yang sama-sama kuliah di Akademi grafika, ATGI di Jakarta, kemudian mereka menikah di tahun 1973. Setahun kemudian, Mereka mendirikan percetakan Daito di kampung halaman Made di Denpasar, di tahun 1974.

Daito terus tumbuh dan berkembang sekaligus menjaga status yang tinggi dalam industri percetakan di Bali. Daito terus memberikan layanan profesional dan tetap setia kepada keluarga dan kerja team dengan visi untuk memperluas dan berinvestasi dengan teknologi terbaru.

Selain percetakan itu sendiri, Made Wijaya pun mendirikan perusahaan supplier kertas, yaitu yang sering dikenal para pemain percetakan di Bali, toko kertas Daito.
Daito Printing adalah pemain tim, nilai-nilai inti mengorientasikan seluruh keluarga dan karyawan yang berdedikasi; itu adalah kejujuran dan komunikasi yang jelas yang dimulai dan diakhiri setiap proyek. keaslian Daito’s menggabungkan tradisi dengan modernisme dan teknologi, namun tetap profesional.

Kini Daito printing dikelola oleh generasi kedua, Willy Agustianto dan adiknya, Irma Puspasari. Pada dasarnya dunia grafika memang sudah mendarah daging dan turun temurun diturunkan oleh kakek Willy dari Bapak yang bergerak di bidang percetakan, dan kakek dari Ibu Willy yang berkecimpung di dunia desain grafis. Daito Printing merupakan perusahaan keluarga yang sejak dulu sudah bergelut di bidang percetakan.

Redaksi majalah Print Graphic mewawancarai Willy Agustianto untuk mengetahui seluk beluk lebih dalam mengenai Daito Printing :

Kami dengar Daito Printing merupakan percetakan terbesar di Bali?

Willy Agustianto : “Kalau dikatakan yang terbesar sich, enggaklah. Kalau untuk segi kelengkapan, mungkin. Kami kan enggak pernah bermain lebih besar dari ukuran cetak 52 x 36 cm. Dari data kami di Bali, ukuran lebih dari itu pasarnya ada, tapi masih kecil. Sehingga menurut saya, mengadakan mesin cetak untuk ukuran besar (setengah plano atau plano) masih belum efisien di Bali. Majalah oplah kecil masih tetap kami terima.

Tahun 2006, kami memasang new Heidelberg Speedmaster 52 – 4 warna pertama di Bali, kemudian kami memasang CTP Heidelberg Suprasetter 75 pertama di Indonesia. Konsepnya kami bermain dengan screening yang berbeda. Di sektor digital printing, kami juga menginstalasi HP Indigo 5500 di tahun 2011. Yang, kemudian sistemnya kami upgrade menjadi Indigo 5600. Sebelum instalasi Hp Indigo, saya perkenalkan terlebih dahulu kepada ayah saya, mengenai digital printing, dengan menginstalasi mesin docu color Canon.

Saya menganggap Bali ini unik, dan saya tidak ingin berperang harga.

Pasar kami itu lebih banyak hotel, hospitality, jewellery. Dulu, waktu perekonomian Eropa masih baik, 30% cetakan kami kirim ke luar negeri. Ada order dengan kuantitas besar, ada juga yang sedikit. Sampai saat ini order cetak hotel bintang 4, bintang 5, banyak yang kami tangani karena kita sadari permintaan mereka terhadap kualitas tinggi, misalnya pantone yang benar, kertasnya juga harus impor.”

Menurut Anda, bagaimana peranan digital printing di masa depan?

Willy Agustianto : “Menurut saya, pasar yang akan menentukan. Tergantung ada kebutuhan (demand). Beberapa vendor offset mulai mengeluarkan mesin cetak extra large. Ini menciptakan peluang bagi percetakan untuk mengambil pangsa oplah-oplah besar seperti packaging. Memang sudah waktunya untuk digital berperan karena teknologinya sudah memadai dibanding dulu. Sehingga penyedia mesin digital printing berusaha mengambil peluang yang besar atau mencoba membawa customer untuk bergeser sepenuhnya ke digital printing.

Dulu banyak pangsa yang tidak masuk bagi pangsa offset, mungkin order banyak yang tidak diterima karena tidak menguntungkan. Kini order-order kecil bisa masuk dengan menggunakan HP Indigo. Karena pada dasarnya, para pengusaha mencari profit, yach, dan kita lihat HP Indigo pun mulai memperbesar peluang dengan area cetak yang lebih besar. “

“Intinya begini, pada dasarnya, customer tidak mau tahu kita cetak pakai apa, yang penting hasilnya bagus.”

“Saya lihat tiap tahun, banyak yang order, klien yang sama, tidak berhenti order, tetapi kuantitasnya berubah. Value-nya (jumlah rupiah) bertambah, tetapi kuantitasnya lebih sedikit. Dulu pesannya 500 pcs, sekarang 200 pcs tetapi pakai hard box. Bentuknya berbeda. Maka akhirnya, pasarlah yang menentukan, itulah kenapa digital printing akan naik, karena yang order cetaknya tambah banyak.”

Bila Kami perhatikan, Daito Printing sangat fanatik pada Heidelberg?

Willy Agustianto : “Semua mesin, menurut saya baik. Tetapi dibalik beli mesin kan, kita perlu after sales service, spare part, jumlah mekanik yang resmi maupun yang tidak resmi, yang mengerti pada mesin tersebut, nilai atau value setelah masa apresiasinya habis, kalau dijual lagi bagaimana, lalu presisinya. Jadi, kalau dibilang Heidelberg, dengan syarat-syarat seperti yang saya urai tadi, untuk saat ini mereka pemain tunggal yach.  Saya termasuk penganut yang memperkenalkan kualitas itu murah. Malah saya bilang “Quality is free”. Apalagi bagi saya yang penting di daerah. After sales service. Kalau ada trouble terus bisa ditangani secepatnya, supaya produksi tidak terganggu.”

Pengadaan mesin Heidelberg untuk regional Asia Pacific kini di-assembling di China, menurut anda?

Willy Agustianto : “Kalau saya bilang, ujung-ujungnya pasti cost yach. Secara standar pastilah Heidelberg ada SOP-nya. Saat ini semua produk Jerman, enggak ada lah yang asli buatan Jerman semua. Mercedez Benz juga, ada spare part yang dibuat di Tangerang. Saya familiar dengan motor Harley Davidson juga ada beberapa part-nya yang buatan Taiwan. Memang sich ada istilah, apa yang anda bayar, itulah yang anda dapat. Tetapi menurut saya, yang penting SOP dan quality control-nya masih tetap standar Jerman.”

Dulu di Bali, percetakan didominasi oleh Daito Printing tetapi sekarang banyak sekali percetakan menjamur di Bali, menurut Bapak?

Willy Agustianto : “Bagi saya makin banyak persaingan, buat saya bagus. Kalau banyak orang cemas dengan persaingan, saya senang. Karena persaingan itu membuat sehat. Manajemen yang saya organisasikan menjadi lebih efisien. Pasar juga menjadi lebih terdidik. Tahun 2009, kita mulai campaign bahwa kita enggak hanya jual cetakan. Daito selalu berprinsip bahwa kami menjual solusi. Seperti pilihan kertas, kami selalu memberikan opsi banyak kertas kepada customer. Seperti pada order cetak hotel-hotel internasional, item-itemnya banyak dan biasanya tidak umum. Bila standarnya sudah seperti itu, harus kita ikuti.”

Trend-nya jaman sekarang kan, penyebaran outlet di berbagai wilayah. Apakah ada rencana Daito Printing untuk membangun banyak outlet?

Willy Agustianto : “Sempat terpikir sich, seperti itu. Tetapi melihat kembali pada data. Saya malah berpikir, apakah ke depannya sebaiknya kita ber-afiliasi saja. Seperti halnya Daito printing ber-afiliasi dengan Subur Jakarta.”
Sekarang industri grafika itu semakin luas, mulai bemunculan industri-industri kreatif non cetak.

Apakah Daito Printing ikut trend ini?

Willy Agustianto : “Daito membuat komitmen untuk membeli mesin atau investasi, memiliki konsep untuk selalu ingin berbeda. Dengan mesin yang sama, Kami punya berbagai eksekusi yang berbeda. Kami lebih ke arah retail. Dan melihat pasarnya bagaimana. Kasarnya, kita tidak ingin ikut-ikutan trend. Kami beli mesin bukan karena ingin kelihatan gagah. Tapi lebih karena kebutuhan.” ■