Sesuatu yang dimulai dari kenekatan, belum tentu berakhir buruk. Banyak pengusaha yang sukses justru dimulai dari nekat. Begitu pula banyak orang yang gagal berwirausaha karena terlalu banyak pertimbangan ini itu. Takut untuk memulai.

pemilik PT Indonesian Lithography (ILITHO), Adrian Martin adalah salah seorang pengusaha yang nekad. Baru memulai usaha printing, langsung instal HP Indigo. Untungnya, sukses.

Adrian yang lahir di Jakarta, 21 Maret 1982, menceritakan pengalamannya selama berkecimpung di dunia usaha percetakan. Berlatar pendidikan S1, Pria dengan dua anak ini sukses membangun ILITHO Digital Printing yang bertempat di Gandaria 1 no.71, Jakarta Selatan.

Bagaimana latar belakang atau kronologi sejarah usaha Percetakan Bapak?
Adrian : “Awal mula Saya menggeluti dunia percetakan adalah ketika Saya membuka usaha pengadaan bahan baku percetakan di tahun 2006. Terutama menyuplai bahan baku ke percetakan koran. Saat itu, 90% konsumennya berasal dari industri koran. Ini berlangsung hingga tahun 2012. Saya melihat dunia percetakan cukup menarik. Selain itu, di tahun 2008, saya juga membuka jasa repro film dan repro CTP. Dimana pada tahun itu era printing banyak berubah dan merupakan awal lahirnya banyak teknologi. Bisa dibilang, di tahun tersebut juga awal pesatnya bisnis digital printing.

Demi memajukan usahanya, Saya sempat menetap dan tinggal di Surabaya selama 5 tahun untuk menggaet pasar di percetakan-percetakan Indonesia bagian timur.
Di tahun 2008 itu juga, saya sempat juga mengembangkan bisnis di bidang Food & Beverage, tetapi karena kecintaan pada dunia printing. Saya sempat mencari tahu, bisnis pencetakan apa yang tengah menjadi trend dan memiliki prospek bagus ke depan.

Apa Alasan Bapak memilih HP Indigo sebagai mesin cetak pertama yang dimiliki?
Adrian : “Di tahun 2008, Saya diperkenalkan mesin HP Indigo. Saya sempat hampir menginstalasinya. Tetapi saya tunda. Sampai akhirnya terealisasi pada tahun 2011, HP Indigo 5500 adalah mesin cetak pertama yang jadi pilihan Saya. Pada tahun ini sekaligus menjadi awal lahirnya ILITHO.

Pilihan saya pada HP Indigo memang cukup membuat heran banyak pihak, dibilang nekad untuk membeli mesin HP Indigo yang terbilang high end untuk ukuran saya yang baru memulai usaha percetakan. Saya memulai bisnis percetakan benar-benar dari nol tanpa memiliki client database, experience, dan team yang memadai. Sebelumnya kan lama di penjualan bahan baku.

Saya melihat value di dalam HP Indigo saat membelinya . Dengan HP Indigo, saya bisa berkompetisi dengan percetakan-percetakan besar yang sudah mapan. Padahal saat itu, saya masih baru di dunia percetakan. Karena menyadari hal tersebut, srategi lainnya adalah bagaimana membuat store yang nyaman dengan pelayanan yang enak. “

Apa saja tantangan dan kendala yang dirasakan selama menggunakan Mesin HP Indigo?
Adrian : “Bagi saya, HP Indigo cukup oke. Kendala pasti ada. Tetapi sejauh ini masih terkendali. Masalah seringkali lebih banyak terjadi dalam pengadaan bahan baku atau substrate di Indonesia. Mesinnya oke, tapi pengadaan bahan bakunya belum siap. Tahun-tahun kemarin, sempat terjadi bahan cetak metallic dan stiker. Sekarang sudah mulai banyak vendor pengadaan bahan baku Indigo certified. Kami memang selalu berusaha menggunakan bahan baku yang certified.”

Bagaimana prospek bisnis percetakan Bapak saat ini dan ke depannya?
Adrian : “Namun tantangan dalam bisnis ini tentu tidaklah mudah. Di hari pertama buka, ILITHO hanya mendapatkan penghasilan sangat minim. Tetapi saya tidak mau menyerah begitu saja. Saya terus belajar dan menambah relasi di bisnis ini. Saya sangat terbantu oleh pihak Samafitro selaku distributor mesin HP Indigo, dalam hal teknis maupun pengembangan market untuk ILITHO.

Bisa dibilang lima tahun pertama bahkan hingga saat ini, kami terus berusaha. Saya menilai, bisnis cetak masih memiliki pangsa pasar yang besar. Untuk di daerah saya sendiri, Saya mengatakan bahwa prospek bisnis ini masih akan menjanjikan sampai 10 tahun kedepan. Apalagi tiap tahun selalu tumbuh. Kebetulan lokasi tempat kami dekat ke end user (hotel , restaurant , café , hotel , office atau central business district (Jakarta selatan).  ■